Fragmen COVID-19 yang Berlama-lama Merusak Sel Kekebalan Tubuh, Menjelaskan Gejala-Gejala COVID-19 yang Panjang

17
Fragmen COVID-19 yang Berlama-lama Merusak Sel Kekebalan Tubuh, Menjelaskan Gejala-Gejala COVID-19 yang Panjang

Penelitian terbaru mengungkapkan bahwa sisa-sisa virus COVID-19 tidak hanya memicu peradangan pada pasien yang sudah lama menderita COVID; mereka secara aktif menghancurkan sel-sel kekebalan utama. Sebuah penelitian yang melibatkan lebih dari 30 penulis internasional menunjukkan bagaimana fragmen virus, yang tertinggal setelah infeksi, menargetkan sel kekebalan tertentu, sehingga berpotensi menjelaskan gejala yang terus-menerus dan melemahkan yang dialami jutaan orang.

Fragmen Viral sebagai Penyerang Kekebalan Tubuh

Bioengineer Gerard Wong dari UCLA menjelaskan bahwa fragmen-fragmen ini menempel pada sel-sel dengan struktur membran yang unik—khususnya sel-sel yang “runcing”, berbentuk bintang, atau memiliki tonjolan seperti tentakel. Hal ini mencakup sel dendritik peringatan dini yang penting, yang memperingatkan tubuh terhadap ancaman virus, serta sel T CD8+ dan CD4+ yang bertanggung jawab untuk menghilangkan sel yang terinfeksi. Menipisnya sel T ini telah dicatat dalam penelitian sebelumnya dan sekarang sedang diselidiki sebagai penanda diagnostik yang potensial.

“Virus melakukan banyak hal yang tidak kita pahami,” kata Wong. “Kami ingin memahami dampak sisa virus terhadap kita, baik selama COVID maupun setelahnya.”

Fakta bahwa berbagai jenis fragmen virus dapat menyerang sel kekebalan menunjukkan mengapa individu dengan kondisi kekebalan yang sudah ada sebelumnya mungkin lebih rentan, meskipun dalam keadaan sehat.

Dampak Omicron yang Lebih Ringan Dijelaskan

Menariknya, varian Omicron—yang terkenal karena tingkat penularannya yang tinggi tetapi umumnya gejalanya lebih ringan—terurai menjadi fragmen protein yang lebih luas di dalam tubuh dibandingkan strain sebelumnya. Yue Zhang, seorang bioengineer di Westlake University di Tiongkok, menjelaskan bahwa protein lonjakan Omicron kurang mampu membunuh sel-sel kekebalan yang penting. Hal ini menunjukkan bahwa infeksi Omicron dapat menyebabkan penurunan kekebalan yang tidak terlalu parah.

Ancaman yang Berkelanjutan dan Implikasinya terhadap Kesehatan Masyarakat

Meskipun persepsi masyarakat terhadap pandemi ini semakin berkurang, COVID-19 terus merenggut sekitar 100.000 nyawa setiap tahunnya di AS, dan masih banyak lagi yang menderita kecacatan jangka panjang. Pada tahun 2024, diperkirakan 17 juta orang Amerika hidup dengan COVID yang berkepanjangan.

Dampak jangka panjang dari COVID-19 masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang signifikan. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa risiko terkena COVID jangka panjang meningkat jika terjadi infeksi berulang, sehingga berdampak pada anak-anak dan orang dewasa. Seperti yang didesak oleh dokter anak Ravi Jhaveri dari Rumah Sakit Anak Lurie di Chicago tahun lalu, vaksinasi tetap menjadi strategi penting untuk mengurangi infeksi dan, akibatnya, kejadian COVID yang berkepanjangan.

Temuan ini menggarisbawahi bahwa bahkan setelah infeksi akut, COVID-19 masih meninggalkan sisa-sisa berbahaya yang mengganggu sistem kekebalan tubuh. Penelitian lebih lanjut terhadap fragmen virus ini sangat penting untuk mengembangkan terapi yang ditargetkan dan mencegah komplikasi kesehatan jangka panjang.