Bagi banyak orang, penampakan paus abu-abu di Teluk San Francisco adalah momen yang menakjubkan. Namun, bagi hewan itu sendiri, perairan ini mungkin merupakan pertaruhan yang menyedihkan dan berbahaya.
Penelitian baru yang dipublikasikan di Frontiers in Marine Science mengungkap kenyataan suram: hampir 20% paus abu-abu yang memasuki Teluk San Francisco mati di wilayah tersebut. Angka kematian yang tinggi ini menjadi indikator nyata semakin besarnya perjuangan yang dihadapi spesies ini saat mereka mengarungi lautan yang terus berubah.
Pencarian Makanan yang Putus asa
Paus abu-abu terkenal dengan migrasi besar-besaran mereka sepanjang 16.000 kilometer, melakukan perjalanan antara tempat mencari makan di Arktik yang kaya nutrisi dan laguna hangat untuk berkembang biak di Meksiko. Secara tradisional, perjalanan ini merupakan perjalanan langsung dan nonstop.
Namun, terjadi pergeseran perilaku. Sejak tahun 2018, para peneliti telah mengamati paus melakukan “perhentian” yang tidak biasa di Teluk San Francisco. Ini bukan tanda rasa ingin tahu, tapi kemungkinan besar merupakan gejala kelaparan.
- Hubungan Arktik: Para ahli meyakini menurunnya ketersediaan makanan di Arktik—yang disebabkan oleh perubahan pola iklim—memaksa paus yang kelaparan untuk menyimpang dari rute perjalanan mereka.
- Pola Berulang: Ini bukanlah fenomena baru; Tren serupa juga terjadi pada akhir tahun 1990an, yang menunjukkan bahwa perubahan lingkungan di wilayah utara mendorong migrasi berisiko ini.
Tol dari “Pit Stop”
Untuk memahami skala bahayanya, Josephine Slaathaug dan timnya di Sonoma State University menganalisis 100.000 foto yang diambil antara tahun 2018 dan 2025. Dengan mencocokkan 114 individu yang teridentifikasi dengan 70 bangkai yang terdokumentasi di wilayah tersebut, mereka mencapai kesimpulan yang mengejutkan.
Temuan:
- Tingkat Kematian Tinggi: Para peneliti mencocokkan 21 paus tertentu dengan bangkainya, yang menunjukkan 18% tingkat kematian bagi mereka yang memasuki teluk.
- Risiko yang Diremehkan: Para ilmuwan yakin jumlah sebenarnya mungkin lebih tinggi, karena banyak bangkai yang terlalu membusuk untuk diidentifikasi melalui pencocokan foto.
- Ancaman Utama: Sebagian besar kematian ini disebabkan oleh hantaman kapal. Dari bangkai-bangkai yang penyebab kematiannya dapat ditentukan, hampir setengahnya disebabkan oleh tertabrak perahu.
“Jika Anda putus asa dan pergi ke Teluk San Francisco, sepertinya Anda punya peluang sangat besar untuk tidak kembali ke sana,” kata ahli ekologi kelautan Joshua Stewart memperingatkan.
Sinyal Ekologis yang Lebih Luas
Bahaya yang terjadi di Teluk San Francisco kemungkinan besar merupakan gejala lokal dari tren global. Paus abu-abu baru-baru ini terlihat sedang mencari makan di lokasi yang tidak biasa, termasuk perairan Florida, New England, dan Hawaii.
Pergeseran ini menimbulkan pertanyaan penting bagi para ahli biologi kelautan: Apakah ini merupakan kemampuan beradaptasi atau darurat?
Meskipun beberapa orang berpendapat bahwa mengeksplorasi tempat mencari makan baru dapat membantu spesies ini menjadi lebih tahan terhadap pemanasan laut, banyak ahli memandangnya sebagai “pilihan yang putus asa.” Paus tidak memilih jalur baru karena preferensi mereka; mereka terpaksa melakukan hal tersebut karena sumber makanan tradisional mereka di Arktik semakin berkurang.
Kesimpulan
Tingginya angka kematian di Teluk San Francisco menyoroti sebuah paradoks yang berbahaya: tempat-tempat yang dijadikan tempat tinggal paus untuk bertahan hidup sebenarnya dapat mempercepat penurunan populasi mereka. Melindungi hewan-hewan ini tidak hanya memerlukan pengelolaan lalu lintas kapal di teluk pesisir tetapi juga mengatasi perubahan iklim yang mengganggu rantai makanan mereka di Arktik.