Para peneliti telah menemukan bahwa satu gen, Agouti, dapat secara dramatis mengubah perilaku ayah pada tikus belang Afrika – mengubah ayah yang mengasuh menjadi ayah yang acuh tak acuh atau bahkan agresif. Penelitian yang diterbitkan pada tanggal 18 Februari di Nature ini mengungkap bagaimana konteks sosial secara langsung memengaruhi ekspresi gen di otak, menentukan apakah tikus jantan akan merawat anak-anaknya atau, dalam kasus ekstrem, membunuh mereka.
Teka-teki Pengasuhan Pria
Pengasuhan orang tua laki-laki ternyata sangat umum di dunia hewan, terutama di kalangan ikan dan amfibi. Namun, hal ini jarang terjadi pada mamalia, dengan kurang dari 5% spesies yang menunjukkan pengasuhan yang konsisten dari pihak ayah. Tikus belang Afrika (Rhabdomys pumilio ) merupakan pengecualian, namun bahkan di dalam spesies tersebut, masing-masing tikus jantan menunjukkan tingkat pengasuhan yang sangat berbeda. Beberapa merawat dan melindungi anak-anaknya, sementara yang lain mengabaikan atau menyerang mereka. Variabilitas ini menjadikan mereka model ideal untuk mempelajari faktor biologis yang mendorong peran sebagai ayah.
Dari Kesendirian ke Agresi: Peran Konteks Sosial
Studi ini menemukan korelasi yang mencolok antara lingkungan sosial dan perilaku ayah. Tikus jantan yang ditempatkan dalam kelompok sering kali menunjukkan agresi terhadap anak-anaknya ketika pertama kali diperkenalkan, tetapi ketika diisolasi, mereka tiba-tiba menjadi sangat kebapakan. Hasil ini bertentangan dengan asumsi sebelumnya bahwa isolasi sosial akan menimbulkan kecemasan dan pengabaian, namun justru mendorong perilaku pengasuhan.
Gen Agouti: Pengungkit Molekuler untuk Menjadi Ayah
Pencitraan otak mengungkapkan bahwa ayah yang peduli memiliki aktivitas lebih besar di area medial preoptic (MPOA), sebuah wilayah otak yang sudah diketahui mengatur perawatan ibu. Namun, analisis molekuler yang lebih dalam mengungkapkan perbedaan utama: laki-laki agresif memiliki tingkat aktivitas gen Agouti yang lebih tinggi di MPOA.
Meningkatkan aktivitas Agouti secara artifisial mengubah pengasuhan laki-laki menjadi ambivalen dan, dalam beberapa kasus, membunuh bayi. Sebaliknya, memindahkan laki-laki dari tempat tinggal kelompok ke tempat menyendiri akan menurunkan tingkat Agouti dan meningkatkan keterlibatan mereka sebagai orang tua. Hal ini menunjukkan bahwa Agouti bertindak sebagai saklar molekuler, mengintegrasikan isyarat sosial untuk menyeimbangkan perilaku bersaing seperti mengasuh anak, memberi makan, dan pertahanan wilayah.
Tautan Tak Terduga ke Stripes
Penemuan ini sangat mengejutkan karena Agouti sebelumnya diketahui mengendalikan perkembangan garis-garis khas tikus. Perannya dalam otak benar-benar tidak terduga. Penelitian menunjukkan bahwa gen ini berevolusi untuk membantu tikus merespons isyarat lingkungan dengan mengatur perilaku yang menuntut semangat seperti pengasuhan orang tua.
Implikasi dan Penelitian Masa Depan
Penelitian ini menambah semakin banyak bukti yang menunjukkan bahwa lingkungan sosial dapat mengubah ekspresi gen di otak, sehingga memengaruhi perilaku orang tua. Meskipun temuan ini khusus untuk tikus belang Afrika, namun hal ini menimbulkan pertanyaan tentang akar biologis dari peran sebagai ayah pada manusia.
“Ini adalah masa-masa awal untuk memahami potensi pengasuhan laki-laki,” kata antropolog Sarah Hrdy. Apakah mekanisme serupa berlaku pada manusia masih belum diketahui, namun penelitian ini menggarisbawahi interaksi yang kompleks antara gen, lingkungan, dan perilaku dalam membentuk pengasuhan orang tua di seluruh spesies.


















