Logika Fuzzy dari Probabilitas: Mengapa Kata-kata Gagal Saat Angka Penting

12

Kita sering membicarakan probabilitas dengan santai – “mungkin”, “mungkin”, “hampir pasti” – namun seberapa akurat istilah-istilah ini diterjemahkan ke dalam hasil di dunia nyata? Kesenjangan antara bahasa sehari-hari dan probabilitas matematis yang tepat sangatlah besar, dan memahami ketidaksesuaian ini bukan hanya sekedar latihan akademis. Hal ini memengaruhi cara kita menafsirkan segala sesuatu mulai dari rencana makan malam hingga ancaman nyata seperti perubahan iklim.

Dari Retorika Kuno hingga Kesalahpahaman Modern

Ambiguitas probabilitas bukanlah hal baru. Orang-orang Yunani kuno telah mengenali perbedaan antara apa yang tampaknya mungkin (eikos ) dan apa yang persuasif (pithanon ), dan mencatat bahwa yang terakhir tidak selalu sejalan dengan peluang yang sebenarnya. Ketidakstabilan linguistik ini terbawa ke dalam retorika Romawi, di mana kedua konsep tersebut disatukan dalam probabil, akar kata modern kita.

Baru pada abad ke-17, dengan bangkitnya perjudian dan zaman Pencerahan, para ahli matematika mulai mengembangkan pendekatan kuantitatif terhadap probabilitas. Para filsuf mengikuti, mencoba memetakan derajat kepercayaan ke dalam suatu spektrum. John Locke, pada tahun 1690, mengusulkan kepastian pemeringkatan berdasarkan konsensus, pengalaman pribadi, dan kesaksian langsung – sebuah kerangka kerja yang relevan bahkan dengan prinsip-prinsip hukum saat ini.

Mengejar Kejelasan Hukum dan Ekonomi

Kebutuhan akan probabilitas yang tepat meluas ke bidang hukum dan ekonomi. Jeremy Bentham, pada abad ke-19, menyesalkan bahasa yang “sangat cacat” yang digunakan untuk mengukur bukti di pengadilan. Dia bahkan mengusulkan skala 0 hingga 10 untuk menentukan peringkat kekuatan keyakinan, namun menganggapnya tidak praktis karena variasi subjektif. Satu abad kemudian, John Maynard Keynes lebih menyukai perbandingan relasional – berfokus pada apakah suatu peristiwa lebih atau lebih kecil kemungkinannya dibandingkan yang lain, daripada menetapkan angka absolut.

Solusi CIA: Kamus Probabilitas

Terobosan ini datang secara tak terduga dari sumber yang tidak terduga: CIA. Pada tahun 1964, Sherman Kent, seorang analis intelijen, menyusun memo rahasia, “Kata-kata Kemungkinan Estimatif,” untuk membakukan bahasa dalam Perkiraan Intelijen Nasional. Kent menyadari adanya ketegangan antara “penyair” (yang mengandalkan bahasa kualitatif) dan “ahli matematika” (yang menuntut angka-angka sulit). Solusinya? Menetapkan probabilitas spesifik ke istilah yang tidak jelas: “hampir pasti” menjadi 93%, meskipun anehnya ia meninggalkan kesenjangan dalam skala 0 hingga 100.

Dari Kecerdasan ke Sains: Adopsi yang Tidak Tambal Sulam

Kerangka kerja Kent mempengaruhi disiplin ilmu pengetahuan, meskipun tidak sempurna. Survei menunjukkan adanya tumpang tindih antara skema yang ia terapkan dan cara profesional kesehatan menafsirkan istilah seperti “kemungkinan”, namun masih terdapat ketidakkonsistenan. IPCC, misalnya, mendefinisikan “sangat mungkin” sebagai peluang 90-100% – sebuah pengingat serius bahwa kita mungkin telah melampaui ambang batas pemanasan 1,5°C.

Psikologi Pembingkaian: Mengapa Negatif Gagal

Meskipun terdapat upaya-upaya ini, persepsi probabilitas masih belum merata. Penelitian menunjukkan bahwa pembingkaian itu penting: orang menganggap perkiraan yang “tidak mungkin” kurang kredibel dibandingkan pernyataan “mungkin” yang setara. Bias kognitif ini mencerminkan cara kita bereaksi terhadap skenario hidup atau mati: sebagian besar lebih memilih pengobatan yang menyelamatkan 200 nyawa dibandingkan pengobatan yang menyebabkan 400 orang meninggal, meskipun hasilnya sama.

Kesimpulannya, mengkomunikasikan ketidakpastian membutuhkan ketelitian. Ketika angka pasti tidak memungkinkan, pemahaman linguistik bersama sangatlah penting. Dan jika memungkinkan, menyusun probabilitas secara positif dapat meningkatkan penerimaan – meskipun kebenaran mendasarnya tetap tidak berubah.