Kuda Bersiul untuk Menghasilkan Rengekan Khasnya, Studi Baru Terungkap

10

Selama berabad-abad, ilmu pengetahuan di balik ringkikan kuda – suara yang sama ikoniknya dengan derap kuda – tetap menjadi misteri yang menarik. Kini, sebuah studi baru yang diterbitkan dalam Current Biology telah mengungkap mekanisme mengejutkan: kuda sebenarnya bersiul untuk menciptakan komponen nada tinggi dalam panggilan khas mereka.

Sifat Ganda dari Rengekan

Rengekan bukanlah suara tunggal melainkan perpaduan kompleks antara frekuensi tinggi dan rendah. Para peneliti sebelumnya memahami suara gemuruh bernada rendah, yang dihasilkan seperti ucapan manusia melalui jaringan bergetar di kotak suara. Namun, jeritan bernada tinggi itu tidak dapat dijelaskan. Hewan yang lebih besar biasanya menghasilkan nada yang lebih rendah; namun, kuda berhasil menciptakan kombinasi yang tidak biasa ini.

Untuk memecahkan teka-teki ini, para ilmuwan menggunakan kamera mini yang dimasukkan melalui lubang hidung kuda untuk merekam proses vokal yang sedang terjadi. Mereka juga melakukan pemindaian dan eksperimen mendetail dengan kotak suara kuda yang terisolasi. Hasilnya mengkonfirmasi sesuatu yang tidak terduga: nada tinggi dihasilkan oleh siulan di dalam kotak suara itu sendiri.

Bagaimana Kuda Bersiul

Berbeda dengan manusia yang bersiul dengan mulutnya, kuda menciptakan suara dengan menggetarkan jaringan di kotak suaranya sekaligus mengontraksikan area di dekatnya untuk membuat lubang kecil. Hal ini memungkinkan udara keluar, menghasilkan peluit khas. Hanya segelintir hewan pengerat kecil, seperti tikus, yang menggunakan teknik vokal ini di antara mamalia. Kuda adalah hewan besar pertama yang diketahui menggunakannya.

“Saya tidak pernah membayangkan ada komponen siulan. Ini sangat menarik, dan saya bisa mendengarnya sekarang,” kata Jenifer Nadeau, spesialis perilaku kuda di Universitas Connecticut, yang tidak terlibat dalam penelitian ini.

Evolusi dan Komunikasi

Asal usul panggilan dua nada ini masih belum jelas. Beberapa populasi kuda liar – seperti kuda Przewalski – dan bahkan rusa besar dapat mengeluarkan suara serupa, sementara kerabat kuda lainnya, seperti keledai dan zebra, tidak dapat mengeluarkan suara serupa. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan tersebut berevolusi dalam garis keturunan tertentu.

Sifat ganda dari rengekan memungkinkan kuda mengomunikasikan pesan yang lebih kompleks. Frekuensi yang berbeda dapat menyampaikan emosi yang lebih luas selama interaksi sosial. Penulis studi Elodie Mandel-Briefer, dari Universitas Kopenhagen, menjelaskan bahwa kuda mungkin dapat “mengekspresikan emosi dalam dua dimensi ini”.

Penemuan ini tidak hanya memperdalam pemahaman kita tentang vokalisasi kuda tetapi juga menyoroti betapa sedikitnya pengetahuan kita tentang kompleksitas komunikasi hewan. Rengekan itu lebih dari sekedar panggilan; ini adalah keajaiban biologis.