Ketika pemerintah di seluruh dunia mencari cara untuk mengurangi emisi gas rumah kaca pertanian, sebuah konsep yang telah berusia berabad-abad kini mengalami kebangkitan teknologi tinggi. Digester anaerobik —sistem yang menangkap metana dari bahan organik yang membusuk—sedang dipromosikan secara besar-besaran sebagai alat utama untuk dekarbonisasi industri susu. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa meskipun mesin-mesin ini dapat mengurangi emisi secara signifikan, mesin-mesin ini juga menimbulkan risiko lingkungan baru dan distorsi ekonomi.
Cara Kerja Digester: Mengubah Sampah menjadi Energi
Ilmu dasar dibalik reaktor ini relatif sederhana. Ketika bahan organik, seperti kotoran sapi, terurai di lingkungan tanpa oksigen, mikroba menghasilkan campuran karbon dioksida dan metana yang dikenal sebagai biogas.
Dalam peternakan sapi perah tradisional, kotoran ternak sering kali disimpan di laguna terbuka yang besar. Ketika gas tersebut terurai, metana—gas rumah kaca yang jauh lebih berbahaya daripada CO2—akan lepas dengan bebas ke atmosfer. Digester mengubah proses ini dengan:
– Menangkap gas: Dengan menempatkan kotoran dalam tangki tertutup atau menutup laguna dengan plastik, biogas akan terperangkap dan dibuang melalui pipa.
– Menghasilkan energi: Gas yang ditangkap dapat dibakar untuk menghasilkan panas dan listrik, dimurnikan menjadi gas alam, atau dikompresi untuk bahan bakar kendaraan.
– Mendaur ulang unsur hara: Sisa kotoran yang dicerna digunakan kembali sebagai pupuk atau alas kandang hewan.
Di atas kertas, manfaatnya sangat besar: kotoran ternak yang telah diproses dapat mengeluarkan gas metana 91% lebih sedikit selama penyimpanan dibandingkan dengan sampah yang tidak diolah.
“Kisah Peringatan” tentang Kebocoran dan Paku
Meskipun mempunyai potensi, pencernaan bukanlah solusi yang sempurna. Sebuah studi baru-baru ini terhadap 98 peternakan sapi perah di Kalifornia—negara bagian yang telah menginvestasikan $389 juta dalam bentuk hibah untuk pengolahan selama satu dekade terakhir—mengungkapkan beberapa komplikasi penting.
1. Risiko Kebocoran Metana
Karena reaktor dipanaskan untuk mempercepat produksi gas, maka terciptalah sumber metana yang terkonsentrasi. Jika sistem tidak tersegel sempurna, kebocoran dapat terjadi. Dalam beberapa kasus ekstrem, studi ini menemukan bahwa kebocoran menghasilkan emisi metana melebihi 1.000 kg per jam, sehingga berpotensi menjadikan “solusi” tersebut menghasilkan emisi yang lebih besar dibandingkan laguna terbuka aslinya.
2. Paku Fase Konstruksi
Para peneliti mencatat bahwa emisi metana sering kali meningkat selama pembangunan reaktor. Meskipun penyebab pastinya masih diteliti, diyakini bahwa mengubah rute bubur kotoran selama instalasi akan membuat limbah menjadi gelisah, sehingga menyebabkan pelepasan gas secara tiba-tiba.
3. “Pertukaran Polusi”
Ada kekhawatiran yang semakin besar mengenai pertukaran polusi, karena penyelesaian satu masalah akan menimbulkan masalah lain. Digester dapat mempercepat pembentukan amonia, polutan lain, dan jika biogas dibakar, bukan ditangkap dan dijual, biogas tersebut dapat melepaskan hidrogen sulfida yang berbahaya.
Insentif yang Merugikan: Meningkatkan Skala Masalah
Mungkin kekhawatiran yang paling signifikan bukanlah masalah lingkungan hidup, namun masalah struktural. Di banyak wilayah, termasuk Kalifornia, insentif pemerintah—seperti kredit untuk bahan bakar rendah karbon—menjadikan biogas sebagai komoditas yang menguntungkan.
Para ahli memperingatkan bahwa hal ini menciptakan “struktur insentif yang buruk.” Ketika kotoran menjadi produk sampingan yang berharga, kotoran tersebut mulai bersaing secara ekonomi dengan susu. Hal ini secara efektif mensubsidi perluasan industri peternakan sapi perah. Sebuah studi menunjukkan bahwa penerimaan insentif ini menghasilkan peningkatan rata-rata 860 sapi per kawanan, yang berarti teknologi yang dimaksudkan untuk memitigasi perubahan iklim sebenarnya dapat mendorong pertumbuhan industri yang mendorong emisi tersebut.
Kesimpulan
Meskipun pencerna anaerobik tetap menjadi salah satu alat yang paling efektif untuk mengurangi emisi peternakan, namun alat ini bukanlah solusi yang dapat ditetapkan dan dilupakan. Untuk mencegah hal-hal tersebut menjadi beban lingkungan atau pendorong ekspansi industri, para pembuat kebijakan harus menyeimbangkan insentif keuangan dengan pemantauan kebocoran yang ketat dan pandangan yang lebih luas terhadap strategi iklim yang lebih holistik.




















