Kasus Parasit Python Pertama pada Manusia Ditemukan di Otak Wanita

62

Seorang wanita berusia 64 tahun di New South Wales, Australia, tanpa sadar menjadi tuan rumah bagi cacing parasit yang belum pernah terdokumentasikan pada manusia. Kasus ini, yang baru-baru ini dirinci dalam laporan medis, menyoroti risiko infeksi zoonosis – penyakit yang berpindah dari hewan ke manusia – dan menggarisbawahi betapa masih sedikitnya pemahaman kita tentang alam.

Gejala Awal dan Kesalahan Diagnosis

Pasien pertama kali mencari pertolongan medis setelah mengalami sakit perut berkepanjangan, diare, dan batuk kering terus-menerus disertai keringat malam. CT scan awal menunjukkan peradangan di paru-parunya dan lesi di hati dan limpa. Dokter salah mendiagnosisnya dengan pneumonia eosinofilik, penyakit paru-paru langka, dan meresepkan steroid. Meskipun pengobatan tersebut memberikan kesembuhan sementara, kondisinya tidak membaik, dan dia kembali beberapa minggu kemudian dengan gejala yang memburuk.

Pengujian lebih lanjut mengesampingkan infeksi bakteri atau jamur yang umum, serta keberadaan cacing pipih parasit yang diketahui. Meskipun ia bepergian ke daerah yang banyak terdapat cacing parasit, tidak ada antibodi atau bukti keberadaan parasit ini yang ditemukan dalam sistem tubuhnya. Dokter meresepkan ivermectin, pengobatan untuk cacing parasit, namun gangguan pernapasan pasien terus berlanjut.

Penemuan Tak Terduga

Setelah hampir setahun mengalami gejala yang belum teratasi, wanita tersebut mulai mengalami perubahan neurologis: depresi dan pelupa. Hasil MRI menunjukkan adanya lesi di lobus frontal otaknya. Biopsi selanjutnya mengungkap kebenaran yang mencengangkan: cacing parasit hidup sepanjang 3 inci tertanam di jaringan otaknya. Cacing tersebut diidentifikasi sebagai larva tahap ketiga Ophidascaris robertsi, nematoda yang biasanya ditemukan pada ular piton asli Australia.

Perawatan dan Pemulihan

Dokter melakukan pembedahan untuk mengangkat cacing tersebut dan merawat pasien dengan kombinasi ivermectin dan albendazole, bersama dengan deksametason untuk mengurangi peradangan. Enam bulan setelah operasi, hasil pemindaian memastikan bahwa lesi di paru-paru dan hatinya telah hilang, jumlah sel darah putihnya menjadi normal, dan gejala neuropsikiatriknya membaik.

Mengapa Ini Penting

Kasus ini unik karena O. robertsi belum pernah dilaporkan menginfeksi manusia sebelumnya. Siklus hidup parasit biasanya melibatkan ular piton karpet, tempat cacing dewasa berkembang biak. Wanita tersebut kemungkinan tertular infeksi melalui sayuran liar yang terkontaminasi yang dia cari di dekat rumahnya di tepi danau, dan menelan telur yang menetas di dalam tubuhnya.

Lamanya infeksi larva – sebanding dengan yang terlihat pada tikus laboratorium – menunjukkan bahwa infeksi parasit yang tidak terdeteksi mungkin lebih umum terjadi daripada yang diperkirakan sebelumnya. Kasus ini menyoroti meningkatnya ancaman penyakit zoonosis, yang didorong oleh perambahan habitat dan meningkatnya interaksi manusia-hewan. Hal ini juga menggarisbawahi perlunya pengawasan yang lebih luas terhadap ancaman parasit yang muncul baik pada satwa liar maupun populasi manusia.

Penemuan ini memperkuat keterhubungan ekosistem dan potensi patogen baru untuk melintasi hambatan spesies, sehingga memerlukan kewaspadaan dan penelitian berkelanjutan di bidang kesehatan masyarakat.